
Antusiasme pelajar SMA/SMK dan calon mahasiswa UGM di Tanjung Pinang menyeruak saat Tim Universitas Gadjah Mada (UGM) menggelar kegiatan promosi pendidikan di Kota Tanjungpinang (11/12) di Aula Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah, Kantor Walikota Tanjungpinang. Peserta mengikuti sosialisasi secara luring maupun daring melalui kanal zoom.
Acara sosialisasi disambut baik oleh Walikota Tanjungpinang, Lis Darmansyah. Dalam sambutannya saat menyapa dan berbincang singkat dengan para peserta, Lis berharap sosialisasi tersebut membantu para putra putri daerah memperoleh informasi yang tepat mengenai proses seleksi perguruan tinggi negeri. ”Semoga adik-adik dapat mempersiapkan diri lebih matang untuk melanjutkan pendidikan UGM”, ungkap Lis.
Tidak ingin melewatkan kesempatan baik dalam memberikan dukungan kepada para pelajar sekolah menengah di Provinsi Riau untuk mengikuti sosialisasi PMB UGM, walikota pun memfasilitasi moda penjemputan para pelajar SMA/SMK ini dari Terminal Sei Carang sampai Kantor Dinas Walikota yang terletak jauh dari kota lama Tanjungpinang.

Narasumber UGM yang juga Tim Sosialiasi UGM, Prof. Drs. Roto, M.Eng., Ph.D., menyapa langsung para siswa kelas XII SMA di wilayah Tanjungpinang, Riau dengan semangat memperkenalkan UGM sebagai universitas inklusif dan berkelas dunia.
Dalam pemaparan tersebut, UGM menegaskan komitmennya sebagai universitas yang lahir dari semangat perjuangan bangsa, dengan misi membangun pendidikan berkualitas dan relevan terhadap tantangan zaman. “Inovasi dan transformasi adalah bagian integral dari setiap langkah UGM, termasuk dalam menjawab tantangan industri dan kebutuhan masyarakat,” ujar Prof. Roto.
Lewat presentasinya, Prof. Roto juga menampilkan pengenalan berbagai program studi sarjana dan sarjana terapan UGM. Dicontohkan Prof. Roto, beberapa program studi tersebut diantaranya Program Studi Teknologi Veteriner yang mempersiapkan mahasiswa menjadi tenaga profesional di bidang kesehatan hewan, kesejahteraan, dan teknologi pangan. Ada pula program studi Teknik Biomedis yang berfokus pada rekayasa alat kesehatan dan kolaborasi dengan rumah sakit akademik UGM.
Di Fakultas Ilmu Budaya, ada Program Studi Bahasa Jepang yang membekali mahasiswa dengan kemampuan bahasa untuk dunia bisnis dan kerja, termasuk peluang magang di perusahaan Jepang. Juga program studi Arkeologi yang mengajarkan metode ekskavasi, analisis laboratorium, hingga pelestarian warisan budaya.
Juga Program Studi Filsafat di Fakultas Filsafat yang mengembangkan kemampuan berpikir kritis, penelitian, dan pemberdayaan masyarakat melalui kajian filsafat Nusantara dan etika terapan. ”Dan masih banyak program studi lainnya di 18 fakultas dan 1 sekolah vokasi. Dimana semua informasi tersebut, bisa diakses di kanal resmi penerimaan mahasiswa baru, um.ugm.ac.id.

Selain itu, UGM juga menampilkan gambaran fasilitas kampus, mulai dari asrama mahasiswa, rumah sakit akademik, pusat olahraga, hingga Gelanggang Inovasi dan Kreativitas Mahasiswa (GIK) yang baru saja selesai dibangun.
Pada sosialisasi program Pascasarjana dipaparkan ragam program studi Magister dan Doktor serta ragam seleksi masuk UGM, juga peluang beasiswa dan prospek karier lulusan. UGM menegaskan posisinya sebagai universitas peringkat pertama di Indonesia untuk bidang bisnis dan manajemen, serta masuk jajaran 10 besar perguruan tinggi terbaik di ASEAN.
“Kami berharap semakin banyak putra daerah Provinsi Riau yang bergabung dengan UGM, menjadi bagian dari perjalanan membangun bangsa, dan berkontribusi bagi masyarakat luas,” tutup Roto.
Guru SMK Negeri 3 Tanung Pinang, Farid Muhammad Hussein yang hadir dalam sosialisasi tersebut, mengungkapkan kesannya mengikuti sosialisasi PMB UGM. “Saya senang sekali, juga excited dengan acara ini. Semuanya, satu sekolah sudah tahu, seperti apa UGM? Jadi ketika ada undangan sosialisasi, kami pun menyambut baik dan anak-anak berbondong-gondong, bahkan anak-anak kami saat ini sedang PKL juga menyempatkan waktu untuk ijin satu hari demi mengikuti acara ini”, ungkap Farid.
Dijelaskan Faird, jurusan yang banyak diminati oleh siswa kejuruan ini rata-rata ada tiga program studi yaitu, Arsitektur, Teknik Sipil dan Psikologi. ”Karena kami dari SMK dengan latar belakang Desain Pemodelan Informasi Bangunan. Jadi anak-anak langsung membidik tiga jurusan tersebut. Sedangkan untuk pilihan Program Studi Psikologi, itu karena sejalan dengan waktu, konsentrasi kami pun sangat berkaitan dengan humaniora, jadi anak-anak cenderung mengarahkan pilihan ke Program Studi Psikologi”, terang Farid.
Untuk persiapan PMB tahun mendatang, Farid mengaku bahwa siswa di sekolahnya sudah dipersiapkan untuk belajar dengan baik. ”Untuk siswa yang berminat masuk jalur prestasi, seperti yang dijelaskan oleh narasumber, juga akan kami siapkan.”, jelas Farid.
Disampaikan Farid, setelah mengikuti acara sosialisasi, ia mengarahkan para siswa untuk lebih banyak konsultasi dengan kepala sekolah dan Guru Bimbingan Konseling. “Kami menyiapkan semua-semuanya. Karena tak hanya kemampuan anak, tapi juga portofolilo sekolah, tegas Farid.

Salah satu peserta sosiaisasi program Pascasarjana, Bintang Reti Indonesia sangat terkesan dengan acara sosialisasi yang digelar UGM. Menurutnya acara ini merupakan pembangkit semangat untuk mengembangkan diri di dunia akademisi setelah sekian lama menjalani rutinitas sebagai ASN. ”Sebagai pemantik gitu ya, karena saya sudah 3 tahun bekerja, menjalani rutinitas sebagai ASN yang mungkin butuh penyegaran gitu”, ungkap peserta yang bekerja di Dinas Pemadam Kebakaran, Pemerintah Kota Tanjung Pinang, Provinsi Kepulauan Riau ini.
Di UGM, Reti yang juga alumnus Fakultas Teknik UGM ini mengungkapkan minatnya untuk malanjutkan studi di Program Magister Perencanaan Wilayah dan Kota (MPWK)”. Saya cukup berminat dengan teknik planologi, tentang perencanaan ruang, perencanaan wilayah, karena saya merasa saya bagian dari perencanaan, saya harus merencanakan lingkungan yang baik untuk keturunan saya nanti, anak-anak saya nanti. Ini yang membuat saya tetap tertarik di bidang ini”, terang Reti.
Reti yang awalnya sempat ragu-ragu mengikuti acara sosialisasi UGM, karena ketakutan yang dialaminya akan stigma terkait tantangan studi bagi pekerja, menjadi terbuka perspektifnya. ”Pekerjaan saya sebagai birokrat, dimana jika akan melanjutkan studi, muncul keraguan, apakah sepadan menjalani ilmu dengan pekerjaan yang dijalani? Ada keraguan juga, apakah ilmu yang dipelajari akan bermanfaat dan berdampak? Termasuk ketakutan lain, seperti meninggalkan keluarga, dan pertimbangan biaya. Tapi setelah mendengarkan pemaparan dari narasumber, saya jadi berpikir, kenapa tidak saya mencoba? Karena tadi dijelaskan juga ada informasi beasiswa. Jadi informasinya sangat jelas, dan cukup membuka wawasan saya untuk melanjutkan studi”, terang Reti.
Reportase: Amalia Nur Angraeni
Penulis: B. Diah Listianingsih
