
Para pejuang UGM yang masih bergerilya meraih kampus impian, bisa berjuang melalui jalur UM UGM CBT 2026. UM UGM CBT merupakan seleksi mandiri yang diselenggarakan oleh UGM dengan menggunakan kombinasi nilai/skor UM UGM CBT dan nilai/skor UTBK. Jalur ini sudah dibuka pendaftarannya pada 15 April 2026 lalu. Dan akan ditutup pada 5 Mei 2026 mendatang. Tes akan berlangsung pada 2 – 6 Juni 2026.
Disampaikan Sekretaris Direktorat Pendidikan dan Pengajaran, Dr. Sigit Priyanta, S.Si., M.Kom., dalam Sharing Session secara online di kanal IG dan Youtube UGM bahwa tahun 2026, UGM akan menerima mahasiswa baru sebesar 9.403. Kuota ini terbagi dalam 3 jalur, 35% SNBP, dengan jumlah sebesar 2837. Lalu SNBT 30%, sama jumlahnya, 2837. Sedangkan untuk seleksi mandiri kuotanya paling besar, yaitu 40% sejumlah 3.729. ”Itu gambaran umumnya, dan masih ada jalur IUP dengan kuota 1200”, terang Sigit.
Syarat utama untuk mendaftar UM UGM CBT 2026, harus memililki skor UTBK. ”Jalur ini terbuka bagi lulusan tahun 2026, 2025 dan 2024. Untuk gap year, ada catatan tambahan syarat utama, yakni harus mengikuti dan punya skor UTBK 2026. ”Kalau pendaftar lulusan 2025 dan 2024, meskipun pernah ikut UTBK di tahun sebelumnya, tetap harus ikut UTBK tahun 2026, karena ini sebagai syarat utama, harus punya skor UTBK tahun 2026”, imbuh Sigit.
Lalu untuk yang saat ini masih duduk di kelas 12 dan akan lulus tahun 2026, jika belum memiliki ijazah atau SKL, bisa mendaftar menggunakan Surat Keterangan Kelas 12 sebagai syarat mendaftar. Surat Keterangan Kelas 12 tersebut harus memuat identitas diri peserta dan memuat foto diri, serta menyatakan bahwa peserta saat ini duduk di kelas 12 dan akan lulus pada tahun 2026. Surat ditandatangani Kepala Sekolah dan ada cap basah sekolah.
Sedangkan untuk lulusan tahun 2024 dan 2025, bisa mendaftar menggunakan ijazah asli atau fotokopi ijazah namun yang dilegalisir, yang memaut tanda tangan dan cap basah sekolah, tambah Sigit.
Kelengkapan lainnya untuk mendaftar selain ijazah/SKL/Surat Keterangan Kelas 12, yakni Kartu Peserta UTBK-SBNT 2026. ”Ini harus asli ya, discan dari kartu aslinya, bukan fotokopian, lalu diupload saat mendaftar UM UGM CBT. Karena ada barcodenya, agar nomor bisa terbaca oleh sistem”, imbuh Sigit. Lalu juga ada dokumen Kartu identitas yang memuat foto, seperti KTP/SIM/Paspor/Kartu Pelajar.
Lebih lanjut di jelaskan Sigit, bahwa indikator utama kelulusan pada jalur ini adalah nilai tes. ”Nilai tes CBT, digabungan dengan nilai UTBK 2026”, tergasnya. Jadi jalur UM UGM CBT ini fokusnya di hasil tes saja.
”Gabungan nilai CBT, berapa persen?”, demikian pertanyaan mengemuka dari salah satu peserta. Dijelaskan Sigit bahwa UGM memberikan pertimbangan tambahan nilai pada jalur ini disamping nilai CBT yaitu skor UTBK, sehingga tentu persentasenya lebih besar nilai UM UGM CBT dibanding dibanding persentase nilai skor UTBK. Lalu, jika ada yang bertanya apakah prestasi lain mempengaruhi? Untuk prestasi atau pencapaian lainnya sudah ada jalur lain yang memfasilitasi, seperti jalur PBUB (Penelusuran Bibit Unggul Berprestasi).
UM UGM CBT 2026 memberikan kesempatan kepada calon peserta untuk memilih 2 program studi, bisa sarjana atau sarajan terapan. Dan penentuan program studinya juga bisa lintas jalur. ”Ini sebagai tindak lanjut dari kurikulum merdeka. Prinsipnya adalah kemampuan peserta dalam menyelesaikan ujian. Jadi jurusan yang dipilih tidak harus linier dengan jurusan saat di SMA”, jelas Sigit. Konsekuensinya peserta harus berjuang lebih dalam mengikuti tes dengan mata uji yang belum pernah ditempuh di Sekolah.
Untuk lokasi tes, tahun 2026, UM UGM CBT diselenggarakan di 2 kota, yakni Yogyakarta dan Jakarta. ”Kami mengundang sebanyak-banyaknya, seluas-luasnya calon mahasiswa UGM untuk melihat Kampus UGM dan ikut merasakan lingkungan di UGM”, ungkap Sigit.
Terkait biaya pendaftaran, untuk seleksi mandiri ada biayanya. Penyelenggara UM UGM CBT ini, biaya pendaftarannya dibebankan ke calon peserta. Bagi yang memilih lokasi tes di Yogyakarta, biaya pendaftaran sebesar 350.000. Sedangkan lokasi tes Jakarta, biaya pendaftaran sebesar 550.000. ”Sama seperti tahun sebelumnya, kuota untuk Jakarta ini sangat terbatas. Jadi calon peserta yang berminat mengikuti tes di Jakarta, harap mencermati jadwal pendaftaran, karena kapasitasnya cepat sekali terpenuhi. Ini menjadi bagian pendaftaran yang harus disiapkan”, tegas Sigit.
Di UM UGM CBT 2026, peserta akan bertarung dengan mengerjakan 3 mata uji yaitu Tes Kemampuan Dasar Umum, Tes Potensi, dan Tes Kemampuan Akademik. Khusus untuk Tes Kemampuan Akademik, peserta akan mengerjakan dua mata pelajaran pendukung sesuai program studi pilihannya. Di jelaskan Sigit secara rinci, bahwa jika calon peserta memilih 2 program studi, bisa jadi, calon peserta akan mengerjakan 4 mata pelajaran pendukung sesuai denga program studi pilihannya. Kecuali jika kedua pilihan program studinya berada pada bidang/klaster yang sama, tetap mengerjakan 2 mata pelajaran pendukung.
Menanggapi berbagai pertanyaan dari peserta terkait peluang masuk UGM, dinyatakan Sigit bahwa UGM sangat mempertimbangkan pemerataan pendidikan termasuk pemerataan kesempatan calon mahasiswa belajar di UGM, sehingga UGM sangat mendorong kepada pendaftar yang sudah dinyatakan diterima di jalur seleksi lain, terutama yang diselenggarakan oleh UGM, bisa fokus pada Program Studi yang sudah dinyatakan diteirma. ”Karena sebenarnya, jika Anda diterima, Anda sudah menyisihkan harapan dari puluhan ribu peserta lain yang Anda singkirkan kesempatannya lewat salah satu jalur. Jadi harapan kami, ya fokus jika sudah memilih itu”, tekannya. “Kalau sudah diterima di jalur lain di UGM, ikut tes lagi, peluangnya kecil”, imbuhnya.
Pertanyaan lain pun diungkapkan peserta, terkait bagaimana jika diterimanya di Universitas lain lewat jalur SNBP atau SNBT tahun sebelumnya, apakah masih bisa mengikuti UM UGM CBT 2026 di UGM? Ditanggapi Sigit, bahwa untuk mendaftar dan mengikut tes, tetap bisa. Namun, ini juga menjadi pertimbangan UGM sebagai bagian dari proses pemerataan pendidikan, pemertaan kesempatan belajar di Perguruan Tinggi di seluruh Indonesia. ”Jadi sebaiknya dipikirkan dan dipertimbangkan kembali jika akan memilih untuk mengikuti tes lagi”, peringatnya.
Lalu bagaimana dengan biaya kuliah jalur ini? Dijelaskan Sigit bahwa penentuan Uang Kuliah Tunggal (UKT) UGM ditetapkan saat peserta dinyatakan diterima sebagai mahasiswa baru. ”Penentuan UTK dilakukan dengan cara pemberian level yang berbeda berdasarkan indeks kemampuan ekonomi orang tua sehingga pola yang digunakan UGM selama ini adalah memisahkan antara proses seleksi yang menentukan seorang calon mahasiswa itu dinyatakan diterima dulu, baru secara akademik diminta dokumen untuk mementukan indeks kemampuan orang tua melalui data pendukung, seperti data pendukung ekonomi dan kepemilikan aset”, terangnya. Selain UKT, ada biaya IPI (Iuran Pengembangan Institusi), namun biaya ini hanya dikenakan kepada calon mahasiswa yang ditetapkan pada level UKT PU (Pendidikan Unggul) atau UKT kelompok 6. Sedangkan untuk calon mahasiswa yang ditetapkan di UKT PU Bersubsidi, tidak dikenakan IPI.
Pada akhir sesi sharing session, Sigit menyelipkan beberapa tips sukses mengikuti UM UGM CBT yang bisa diterapkan oleh para calon peserta. ”Persiapkan dengan benar. Bahwa yang diterima dan lulus itu tidak hanya pintar atau cerdas, namun juga siap. Dan ini tergambar dari cara calon peserta mengikuti proses seleksi”, jelas Sigit. Jadi meskipun pintar, namun tidak ada persiapan, misalnya lalai dalam mempersiapkan berkas/dokumen persyaratan, sehingga dinyatakan tidak layak/lulus verifikasi dokumen dan tidak bisa mengikuti tes, maka kesempatannya akan hilang.
Tips lainnya yaitu, cermati mata uji dan pahami karakterisiktik mata uji. Pahami juga pola-pola ujiannya. Lalu, sangat penting, pertimbangkan dalam pemilihan program studi. ”Jangan sampai salah memilih prodi. Pilih program studi sesuai dengan passion dan kemampuan Anda, sesuai dengan realitas nilai pendukung Anda”, terangnya. Saat belajar, jangan terapkan model belajar yang kurang pas, seperti belajar kebut semalam.
Sigit juga mengingatkan peserta untuk memililh program studi dengan melihat pertimbangan peluang karir dan daya saing di masa depan. ”Pilih program studi yang prospektif di masa depan”, ujarnya. ”Perlu juga meminta pendapat dari pendamping yang bisa memberikan masukan konstruktif dalam memilih program studi”, pungkasnya menutup sharing session.
Penulis: B. Diah Listianingsih
