
Universitas Gadjah Mada (UGM) menerima kunjungan resmi jajaran pimpinan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) dalam rangka kegiatan Sharing Knowledge terkait penerimaan mahasiswa baru jalur mandiri di Ruang Mulitmedia, Gedung Pusat UGM, Selasa (28/7). Pertemuan yang dihadiri Rektor, Wakil Rektor serta Dekan fakultas Untirta ini menjadi momentum penting bagi kedua institusi untuk saling berbagi praktik baik dalam tata kelola seleksi mahasiswa, khususnya jalur mandiri dan rekognisi pembelajaran lampau (RPL).
Acara dibuka dengan sambutan hangat dari Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran UGM, Prof. Dr. Wening Udasmoro, S.S., M.Hum., DEA yang menekankan tantangan besar dalam proses penerimaan mahasiswa baru.
Disampaikan Wening bahwa UGM setiap tahun menerima lebih dari 10.000 mahasiswa dari berbagai jalur, dengan seleksi yang sangat ketat demi menjaga kualitas akademik sekaligus memperhatikan keseimbangan ekosistem pendidikan di Yogyakarta. ”Kami sangat menjaga selektivitas dan mutu proses penerimaan mahasiswa baru, sehingga tahun ini UGM menerima kurang lebih 4000-an mahasiswa baru program sarjana dan sarjana terapan dari jalur mandiri”, jelas Wening.

Rektor Untirta, Prof. Dr. Ir. H. Fatah Sulaiman, ST., MT., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kesempatan berbagi pengalaman dengan UGM. Ditegaskan Fatah Sulaiman bahwa Untirta saat ini tengah memperkuat tata kelola penerimaan mahasiswa, termasuk jalur mandiri dan RPL, serta baru mendapatkan mandat untuk menyelenggarakan seleksi calon dokter spesialis.
”Dengan jumlah peminat mencapai lebih dari 50.000 orang setiap tahun, Untirta berkomitmen menjaga mutu dan transparansi proses seleksi. Dan khusus untuk jalur mandiri, kami ingin lebih menyempurnakan program tersebut, sehingga perlu benchmarking ke UGM”, terang Fatah Sulaiman.
Sesi diskusi inti dipandu oleh Dr. Sigit Priyanta, S.Si., M.Kom., Sekretaris Direktorat Pendidikan dan Pengajaran UGM, yang menjelaskan secara teknis implementasi RPL di UGM. Sigit mencontohkan penerapan RPL pada Program Studi Keperawatan, yang memfasilitasi tenaga kesehatan dengan ijazah diploma tiga tetapi telah berpengalaman, untuk melanjutkan studi sarjana melalui pengakuan capaian pembelajaran dari pengalaman kerja dan pendidikan sebelumnya. ”UGM membuka jalur RPL pertama kali pada program Profesi Insinyur, dengan mekanisme penilaian portofolio yang ketat dan transparan”, urainya.

Selain aspek akademik, diskusi turut membahas kebijakan pembiayaan pendidikan, termasuk Uang Kuliah Tunggal (UKT) dan Iuran Pengembangan Institusi (IPI). UGM menegaskan komitmen kerakyatan dengan sistem subsidi silang, sehingga mahasiswa dari keluarga berpenghasilan rendah tetap dapat mengakses pendidikan berkualitas. Untuk program spesialis kedokteran, UGM menekankan pentingnya menjaga kualitas dan keselamatan pasien dengan pembatasan jumlah penerimaan sesuai kapasitas dosen pembimbing.

Lebih lanjut diskusi mengerucut pada topik bahasan mekanisme seleksi jalur mandiri, dan juga pola seleksi melalui jalur prestasi dan kerja sama. Diskusi juga menyentuh aspek evaluasi untuk masing-masing jalur masuk.
Pada akhir acara, pertemuan ditutup dengan prosesi penyerahan cenderamata dan foto bersama sebagai simbol persahabatan dan komitmen kolaborasi berkelanjutan antara UGM dan Untirta.
Penulis: B. Diah Listianingsih
Foto: Alfin Ni’am
