
Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) melakukan kunjungan studi banding ke Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam rangka pengembangan transformasi digital dan peningkatan kualitas layanan administrasi akademik pada Kamis, 25 Juni 2026 di Ruang Pertemuan Direktorat Pendidikan dan Pengajaran.
Dalam surat resmi, PENS menyampaikan tujuan utama kunjungan yakni untuk mempelajari dan berdiskusi mengenai implementasi ijazah digital yang telah diterapkan di UGM. Fokus pembahasan yang diharapkan menyasar pada SOP penerbitan ijazah digital, termasuk sistem informasi dan infrastruktur pendukung ijazah digital, keamanan, verifikasi, dan validasi dokumen digital, serta manajemen pengarsipan dokumen.

UGM menyambut baik maksud kunjungan dalam rangka studi banding tersebut dan menerima kunjungan Tim dari PENS yang terdiri dari Wakil Direktur Akademik, Plt. Kepala Bagian Akademik dan Kemahasiswa, dan Kepala Sub Bagian Akademik, serta jajaran staf bidang akademik Politeknik Elektronika Negeri Surabaya. Sedangkan dari pihak UGM, Tim diwakili oleh Direktorat Pendidikan dan Pengajaran dan Direktorat Teknologi Informasi yang membagi pengalaman implementasi ijazah digital di UGM.
Prof. Moch. Zen Samsono Hadi, S.T., M.Sc., Ph.D., Wakil Direktur Bidang Akademik PENS, menegaskan bahwa studi banding ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat transformasi digital di lingkungan kampus. “Kami berharap dapat memperoleh wawasan mendalam mengenai praktik terbaik yang telah dijalankan UGM, khususnya terkait penerbitan ijazah digital,” ujarnya.

Dalam diskusi yang mengemuka, disampaikan Sekretaris Direktorat Pendidikan dan Pengajaran, Dr. Sigit Priyanta, S.Si., M.Kom., bahwa penerapan ijazah digital di UGM telah dimulai sejak Oktober 2021. Proses penerbitan ijazah digital di UGM dilakukan melalui tahapan panjang. “Prosesnya cukup panjang ya, mulai dari pendaftaran mahasiswa, dilanjutkan verifikasi data di tingkat fakultas dan universitas. Setelah itu, baru dilakukan pemesanan PISN setelah data dinyatakan sesuai. Dan terakhir, pencetakan ijazah digital, yang tetap diberikan saat prosesi wisuda”, jelasnya.
Sigit menambahkan bahwa meskipun UGM telah beralih ke sistem digital, ijazah fisik tetap dicetak dan dibagikan pada saat wisuda sebagai bentuk kelengkapan administrasi.
Kunjungan ditutup dengan ramah tamah dan foto bersama sebagai wujud menandai silaturahmi dalam mempererat kolaborasi. Lewat studi banding ini, UGM tidak hanya memperkuat reputasinya sebagai pionir dalam penerapan ijazah digital, tetapi juga berkontribusi pada peningkatan mutu dan modernisasi tata kelola pendidikan tinggi di Indonesia.
Penulis: B. Diah Listianingsih
Foto: Alfin Ni’am
